Sebaiknyagunakanlah kalimat hanya allah yang tahu (wallahualam), karena kebenaran hanyalah milik Allah SWT sang pemilik langit dan bumi. Jadi siapapun yang mendengar penjelasan sahabat muslim, akan memaknai bahwa jika ingin mengetahui kebenaran yang sempurna bukanlah mencari tahu kepada sesama makhluk. Tapi langsung kepada Allah SWT melalui Kemuliaanitu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. ( QS al-Munafiqun [63]: 8 ). Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah. [5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa' (4) ayat 138-139 di atas. JanganTakut dan Jangan Bersedih Allah Bersama Kita. Home; My Facebook; My Twitter; My Ooiya; Download; Childcare; Beranda Apapunyang kita punya adalah milik-Nya yang hanya dipinjamkan kepada kita. Kebenaran hakiki bersifat mutlak dan tidak dibatasi oleh waktu. Sedangkan yang lain termasuk kebenaran manusia, adalah kebenaran relatif, dan dibatasi oleh waktu. Tak terhitung banyaknya contoh kebenaran di bidang medis, yang dulunya dianggap sebagai benar, saat KebenaranBukan Hanya Milik Allah! Banyak di antara kita sering berdebat tentang kebenaran. Perdebatan yang terkadang sering tidak mendapatkan titik temu. Masing masing pihak cenderung menganggap kebenaran yang diklaim sebagai kebenaran menurut versi dia adalah kebenaran yang hakiki. Tentu saja hal ini akan membuat perdebatan mengenai kebenaran . Suatu saat, penulis menemukan gambar yang menarik di internet. Pada gambar tersebut, terbaring gambar angka tidak jelas 6 atau 9 secara horizontal di lantai. Di ujung-ujung gambar angka tersebut terdapat dua orang yang berdiri saling berhadap-hadapan. Orang pertama menunjuk gambar angka yang tergeletak di lantai dan berkata “six!” karena dari sudut pandangnya terlihat seperti angka 6, sementara orang kedua menunjuk gambar angka yang sama dan berkata “nine!” karena dari sudut pandangnya terlihat seperti angka 9. Di bawah gambar tersebut kemudian tertulis caption “Just because you are right, does not mean, I am wrong. You just haven’t seen life from my side” hanya karena anda benar, bukan berarti saya salah. Anda hanya belum melihatnya kehidupan dari perspektif saya, mengindikasikan kebenaran tidaklah tunggal dan bersifat relatif. Dalam diskusi keagamaan, ada juga yang menggunakan argumen sejenis untuk mengutarakan pandangannya. Ketika ditanya benar/salahnya perilaku homoseksual, seorang mahasiswa Muslim dengan gagah atau gegabah mengatakan “Kebenaran itu hanya milik Allah! Kita tidak punya hak untuk menyalahkan orang lain!” Ketika ditanya tentang status kebenaran ajaran agamanya, seorang cendekiawan Muslim berkilah “Benar menurut saya belum tentu benar menurut orang lain. Kebenaran itu relatif, yang mutlak hanyalah Allah.” Perkataan-perkataan tersebut mengesankan bahwa sepanjang diucapkan manusia, kebenaran itu relatif. Manusia tidak mungkin dan tidak akan pernah tahu kebenaran yang hakiki, karena ia hanyalah milik Allah. Oleh karenanya, haram hukumnya jika merasa benar – apalagi sampai menyalahkan orang lain. Benarkah hanya Allah yang tahu kebenaran? Tulisan ini dibuat untuk menjawab permasalahan tersebut. Untuk menilai kevalidan klaim “kebenaran hanya milik Allah”, pertama harus ditanyakan dulu, “mungkinkah manusia mengetahui?” Jika jawabannya “tidak”, maka dengan sendirinya benarlah klaim tersebut – sepanjang masih percaya adanya Allah. Namun demikian, benarkah begitu? Inilah yang menjadi titik tolak pembahasan tulisan yang sedang anda baca. Pertanyaan “mungkinkah mengetahui” merupakan permasalahan asasi dalam epistemologi. Pertanyaan ini sudah mengemuka dari sejak zaman Yunani kuno. Pada zaman tersebut lahir aliran yang bernama sofisme. Menurut kaum sofis, semua kebenaran itu relatif. Ukuran kebenaran itu manusia man is the measure of all things. Karena manusia berbeda-beda, jadi kebenaran pun berbeda-beda tergantung Sofisme klasik kemudian bereinkarnasi menjadi skeptisisme dan Penganut skeptisisme senantiasa bersikap skeptis terhadap segala hal. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara termasuk yang qathi dan bayyin dalam agama harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Sementara itu, penganut relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut paham ini, kebenaran berada dan tersebar di mana-mana, namun semuanya bersifat Islam tentu saja menentang paham sofisme dengan segala macam bentuk reinkarnasinya. Dari sejak awal surat, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Al-Fatihah 1 6-7 Ayat ini kita panjatkan sekurang-kurangnya 17x sehari dalam shalat wajib. Maka dari itu, sebenarnya sangat absurd jika seorang Muslim bersikap emoh terhadap kebenaran, meskipun dibungkus dengan kemasan’ yang cantik seperti “kebenaran hanya milik Allah”. Mengetahui tidaklah mustahil. Jadi bukan seperti yang sering diklaim oleh kaum sofis, relativis, skeptik, dan agnostik serta para penurut dan pembeonya hingga akhir zaman. Dalam hal ini, keyakinan dan pendirian Ulama kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah disimpulkan secara ringkas dan akurat oleh imam An-Nasafi dalam kitabnya Haqaa’iq al-asyyaa’ tsaabitah, wa l-ilmu bihaa mutahaqqiq, khilaafan li s-suufasthaa’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap dan oleh karena itu bisa ditangkap, tidak berubah sebab yang berubah-ubah itu hanya sifatnya, , , atau -nya saja, sehingga segalanya bisa diketahui dengan jelas, sehingga manusia bisa dibedakan dari monyet, ayam tidak disamakan dengan burung, roti dengan batu, atau akar dengan ular. Demikian pula hal-hal tersebut di atas, semuanya tidak mustahil untuk diketahui dan dimengerti, dapat dibedakan dan bisa dijelaskan. Firman Allah SWT dalam surat Az-Zumar 39 9 Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?5 Mungkin ada yang berkomentar, “Pada kenyataannya para ulama juga berbeda pendapat dalam perkara agama, bukankah itu berarti kebenaran itu relatif?” Mengenai hal tersebut, Nashruddin Syarief berkomentar dalam bukunya Menangkal Virus Islam Liberal sebagai berikut Terkait dengan adanya ikhtilaf di antara ulama yang sering dijadikan pembenar bahwa tidak ada kebenaran yang pasti, maka tentu harus dibedakan dulu mana yang qath’i dan mana yang zhanni, mana yang ushul dan mana yang furu’. Karena pastinya para ulama tidak mungkin berikhtilaf dalam masalah yang ushul dan qath’i. Kalaupun masih ada juga yang berbeda dalam kedua masalah tersebut, maka itulah orang-orang yang masuk kategori sayyi’ah dan Pun demikian bisa saja ada yang membantah “para ulama juga biasa menyebut Namun Tuhan lebih dan paling mengetahui apa yang benar’ wa Allahu a’lam bi-s shawaab, bukankah itu berarti hanya Tuhan yang paling mengerti kebenaran?” Mengenai hal tersebut, Dr. Syamsuddin Arif memberikan tanggapannya dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Berikut tanggapannya Memang betul, ketika menafsirkan kitab suci, kita tidak boleh mengklaim bahwa kita benar-benar telah memahami maksud firman Tuhan. Tidak boleh merasa seolah-olah kita telah menangkap maksud kata-kata Tuhan yang sebenarnya. Itulah sebabnya mengapa para ulama salaf selalu mengakhiri fatwa dan karya mereka dengan kalimat “Namun Tuhan lebih dan paling mengetahui apa yang benar” wa Allahu a’lam bi-s shawaab. Kalimat ini sering disalahpahami. Para ulama salaf mengatakan ini bukan karena mereka ragu-ragu atau skeptis, bukan pula karena mereka menganut relativisme. Dalam masalah keilmuan, ulama salaf sangat tekun, teliti, dan teguh dalam berpendirian dan berargumentasi, sebagaimana dapat dilihat dalam literatur fiqih dan ilmu kalam. Kalimat tersebut mereka ucapkan semata-mata karena adab kepada Tuhan’ yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun dengan sesama manusia, sikap yang ditunjukkan adalah kesanggupan menerima dan mengikuti kebenaran, dan bukan menampik atau mempertahankan Jadi, mengetahui itu mungkin saja dicapai oleh manusia. Dalam Islam pun ada perkara yang qath’i, bersifat pasti. Contohnya, dari dulu sampai sekarang Al-Ikhlas pasti dimaknai sebagai Tauhid. Dalam Islam, tidak pernah keesaan Allah dimaknai sebagai “esa tapi beranak-pinak”, “esa tapi termanifestasi dalam beberapa jenis Tuhan”, dll. Sama halnya dengan perintah shalat, shaum Ramadhan, zakat, naik haji, dll semuanya adalah tetap. Setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, remaja maupun dewasa, tinggal di negara Islam maupun negara sekuler, tetap wajib melaksanakannya. Sama juga halnya dengan keharaman khamr, zina, dan homoseksual. Semuanya tetap dan independen terhadap zaman – untuk menolak yang beranggapan bahwa ajaran Islam seluruhnya harus disesuaikan dengan zaman. Lalu, bagaimana caranya kita mengetahui? Tentunya dengan belajar, mencari ilmu. Berkenaan dengan ini, kita beruntung karena terdapat warisan khazanah intelektual Islam bukan warisan doktrin yang tidak terhitung jumlahnya. Tidak perlu bersikap relativis ataupun skeptis, sebab manusia bisa tahu yang benar. Wallahu Alam Daftar Pustaka [1] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, hlm. 89 dalam Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 146. [2] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 146-147. [3] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta Gema Insani, 2008, hlm. 140-141. [4] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 147. [5] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta Gema Insani, 2008, hlm. 203-204. [6] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 148. [7] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta Gema Insani, 2008, hlm. 151-152. Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai para pencintaku, para penggemar ilmu yang selalu mempelajari aku, membacaku, membuka lembaran demi lembaranku setiap harinya.. janganlah pernah berhenti mempelajariku…… kenali aku…… pahami aku….” “Janganlah pernah merasa puas atas nilai kebenaran yang kalian peroleh melalui aku saat ini,.. karena sesungguhnya nilai kebenaran yang kalian peroleh, belumlah menggapai kebenaran yang Hakiki, jauh penggemarku…… masih sangat jauh. Bukankan kebenaran yang Hakiki hanya milik ALLAH semata?” “Mohon maaf para penggemarku, aku hanya mampu mengarahkan dan mendekatkan kalian kepada kebenaran yang Hakiki, tapi aku tak mampu membuat kalian untuk meraihnya secara utuh” “Walaupun seluruh pepohonan di muka bumi ini di jadikan pena dan tujuh lautan dijadikan sebagai tinta, bahkan bila ditambahkan sebanyak itu pula… Tak akan penah habis hikmah ilmu dan khazanah yang terkandung di dalamku tuk kalian raih kepahamannya..” “Sekali lagi penggemarku, kebenaran Hakiki hanyalah milik ALLAH dan tak satupun makhluk yang mampu menggapainya secara utuh. Untuk itu janganlah kalian merasa paling pintar.. paling benar… mudah menyalahkan pendapat orang lain, dengan dalil ayat-ayat yang terkandung di dalamku… jangan sekali-kali pencintaku… Karena bila itu terjadi… maka kalian akan terpecah belah menjadi banyak golongan dan kalian akan saling bermusuhan.. saling bertikai bahkan saling menghabisi satu sama lainnya. Bukankah itu yang terjadi saat ini..?” “Wahai penggemarku… keberadaanku, bukanlah untuk menjadi mudarat bagi alam semesta ini. Sadarilah wahai penggemarku, perbedaan yang terjadi diantara kalian dalam memahamiku adalah merupakan bukti nyata.. betapa terbatasnya kemampuan kalian tuk memahamiku. Bila untuk memahamiku saja kalian tak mampu, bagaimana mungkin kalian akan mampu menggapai segala ke “Maha” an NYA ???” “Keberadaanku adalah sebagai penebar keselamatan di alam semesta ini.. pembawa rahmat bagi sekalian alam.. bukan penebar ketidak nyamanan.. bukan pencipta kegelisahan.. bukan pemecah belah di antara kalian.. bukaan.. sama sekali bukaan..!! Bagaimana mungkin tuk hal yang sangat sederhana ini saja, kalian tak mampu memahaminya..? Apakah yang ada di benak kalian.. sehingga walaupun kalian sudah mempelajariku, namun… kalian acapkali bertindak bertentangan dengan peruntukkanku di alam semesta ini..?” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia yang teramat sangat kucintai.. sebenarnya.. cukuplah kalian ikuti saja bimbinganku, arahanku, untuk mengenali diri kalian sendiri lebih mendalam, tentang keberadaan kalian, tentang peruntukan kalian diciptakan.. serta tentang beban amanah apa yang kalian emban dan wajib jalankan, sebelum hayat berakhir meninggalkan dunia ini. Dan bila kalian isqamah mengikuti bimbinganku tuk memahami dan mengenali tentang diri kalian sendiri.. niscaya kelak kalian akan lebih memahami dan mengenali akan Tuhan kalian yang sebenarnya.. ALLAH SWT, Pencipta kalian semua” “Ooooh… penggemarku … kalian terlalu muluk … sangat terlalu muluk bila kalian telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, dan kalian memutuskan untuk berhenti mempelajariku.. memahamiku…” “Jangan lakukan itu penggemarku, jangan lakukan… pelajari aku terus, kenali aku terus… pahami aku terus…. amalkanlah segala yang telah kalian pahami.. Karena bila kalian berhenti mempelajariku dan telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, aku khawatir kalian akan menjadi takabur.. arogan.. sombong. Aku sangat yakin, seyakin-yakinnya itulah kesesatan yang teramat besar !!! layaknya syaitan yang sombong dan terkutuk selamanya dan akan menjadi penghuni abadi di neraka jahanam” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. bersyukurlah atas ke Islaman kalian yang sudah terbawa sejak lahir.. karena apabila kalian istiqamah dalam menjalankan shalat.. paling tidak sebanyak 9 kali dalam sehari di waktu-waktu shalat, kalian bersyahadat.. menyatakan kesaksian bahwa tiada tuhan selain ALLAH dan Rasulullah Muhammad saw sebagai utusan yang membawa risalah yang terkandung di diriku..” “Namun.. realitanya bagaimana dengan wujud nyata atas kesaksian kalian tersebut..? apakah kesaksian kalian sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai kumpulan firmanNYA yang mampu menghantarkan kalian kepada petunjuk yang benar dalam menggapai ridhaNYA ? Apakah kesaksian kalian atas Rasulullah Muhammad saw, sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai risalah yang beliau sampaikan kepada kalian agar terselamatkan di dunia maupun akhirat ? Yaa.. dengan mempelajari aku.. memahami aku.. adalah sebuah cara yang tepat dalam memperbaiki kualitas ke Islaman dan syahadat kalian semua” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. dalam sehari.. paling tidak 17 kali dalam shalat kalian membaca bagian dariku yaitu surat “Al Faatihah” dan berdoa meminta ditunjuki kepada jalan yang lurus. Tidakkah kalian sadar, bahwa jalan yang lurus sebenarnya sudah ALLAH sediakan melalui aku.. kumpulan dari segala petunjukNYA, yang tidak ada keraguan di dalamnya bagi orang-orang yang bertaqwa..?? Lantas mengapa engkau masih saja belum tergerak atau enggan mencari petunjuk yang telah disediakan di dalam diriku ?” Yaa.. memang salah satu namaku adalah Al Hudaa, petunjuk atas segala problematika yang ada di alam semesta ini bahkan tuk pencapaian kebaikan akhirat sekalipun ada di dalam diriku, dan itu semuanya DIA sediakan dan peruntukkan bagi kalian semua. Sadarilah itu.. Wujudkanlah permintaan dan doa kalian dalam shalat itu dengan membaca aku, mempelajari aku, memahami aku, demi meraih petunjuk jalan yang lurus atas segala hal dan masalah yang kalian hadapi” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai… sebagian manusia yang belum muncul kecintaannya padaku… seandainya kalian Islam.. mengapa kalian belum juga menyentuh diriku.. membuka lembaran demi lembaran diriku.. bencikah kalian pada ku..? Tidak rindukah kalian kepadaku, sang kitab termulia yang pernah ada di sepanjang zaman ? “Berapa saat kah dalam keseharian kalian teringat akan aku.. terbersit tentang keutamaanku.. pernahkah kalian sempatkan sedikit waktu saja tuk menyentuhku.. melihatku.. membacaku ? Ketahuilah.. aku sangat merindukan kalian.. teramat sangat rindu..” “Ketika aku akan diturunkan kemuka bumi ini, betapa ALLAH telah mempersiapkan segala kondisi yang terbaik untukku.. IA pilihkan waktu terbaik diantara seluruh waktu yang pernah ada tuk menurunkanku.. Lailatul Qadr..” “IA pilihkan panglima malaikat tertinggi tuk membawa aku ke permukaan bumi ini.. Jibril yang perkasa..” “IA pilihkan sosok manusia terbaik sepanjang masa tuk menerima kehadiran ku.. baginda Rasulullah Muhammad saw.. yang dengan segala pengorbanan harta, jiwa dan raga serta waktu dalam hidupnya, ia persembahkan demi sampainya aku kepada kalian semua.. begitu pula dengan para sahabatnya yang begitu setia, mulia dan total dalam memperjuangkan keberadaanku agar sampai kepada era kalian saat ini” “Entah sudah berapa banyak nyawa para pejuang Islam yang sudah mengorbankan dan merelakan jiwanya demi memperjuangkan syiar akan keberadaanku, sehingga sampailah aku kepada masa kalian saat ini..” “Dengan segala keutamaan pristiwa diturunkannya aku ke muka bumi ini dan perjalanan sejarah yang luar biasa itu.. Lantas mengapa dengan mudah dan ringannya kalian tak pedulikan aku..? memandang sebelah mata padaku..?” Seandainya kalian tau, bagaimana kelak aku akan dapat menerangi dan melapangkan makam kalian.. membela kalian di hari perhitungan kelak.. tentu kalian akan menghampiriku waktu demi waktu.. membawaku kemana kalian pergi.. Tapiiii.. bagaimana aku akan mampu melakukan semua itu.. tanpa munculnya kecintaan kalian pada ku..??” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. teramat sangat banyak sebenarnya yang ingin ku sampaikan kepada kalian semua, seandainya aku diberikan kemampuan bicara layaknya kalian.. yang dapat didengar dengan jelas ditelinga.. tentunya aku tak akan pernah bosan tuk menasehati.. mengingatkan.. dan membimbing kalian semua, sepanjang hari tanpa henti.. demi menuju kepada keridhaanNYA” “Aaah sudahlah… nyatanya.. sampai dengan saat ini…. aku tidak diberikan kemampuan untuk berkata-kata seperti layaknya kalian.. yang setiap waktu bisa didengarkan ditelinga manusia… ini hanyalah sebuah kemungkinan.. seandainya…. seandainya saja aku Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya kalian wahai manusia…” PENULIS Aku yang tersesat dan merindukan suara Al Quran tuk membimbingku JANGAN KLIK DISINI Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_274194" align="aligncenter" width="300" caption="images ..... kebenaran hakiki’ definisi pengertiannya merujuk kepada suatu yang bersifat tetap-baku-hakiki-tak bisa berubah dan tak ada sesuatu pun yang bisa merubahnya kecuali tentu sang penciptanya,sehingga pengertiannya diparalelkan dengan kebenaran yang sesungguhnya’ - kebenaran sejati’ Kebenaran hakiki itu juga merupakan suatu yang otonom dari manusia dalam arti tidak bergantung kepada pandangan - persepsi manusia,sebagai contoh apapun pandangan manusia terhadap realitas adanya kematian dibalik kehidupan maka realitas adanya kematian dibalik kehidupan itu akan tetap ada, tak akan berubah menjadi tidak ada,apapun pandangan manusia terhadap hakikat api maka hakikat api tidak akan berubah,apapun pandangan manusia terhadap alam semesta serta berbagai organnya hakikat alam semesta yang mekanistis tetaplah tidak akan berubah Kebenaran hakiki itu pun bersifat tunggal - menyatu dalam arti tak ada unsur - perkara lain yang bisa menyaingi serta mengatasi nya sehingga meruntuhkan derajat ke hakiki an nya,sehingga mustahil ada dua atau lebih hal yang essensinya serba berlawanan yang sama sama benar secara hakiki,seperti api itu hakikatnya panas sebab itu bila ada pernyataan yang menyebut hakikat api dingin’ maka pernyataan itu tak bisa disebut sama benar’ dengan pernyataan yang menyebut hakikat api sebagai panas Karena bersifat tunggal maka hakikat itu tak bisa diruntuhkan oleh suatu penampakan lahiriah yang ber aneka warna - ber aneka wajah,misal hakikat Tuhan itu satu sehingga bila di alam lahiriah ada banyak golongan manusia yang menyebut serta menyembah tuhan secara berbeda beda maka itu bukan berarti hakikat Tuhan itu banyak,sehingga kita harus berfikir mana Tuhan yang sebenarnya hakiki ? ... dengan kata lain hakikat Tuhan hanya mungkin ada satu sebagaimana mustahilnya keserba tertataan alam semesta di kendalikan oleh dua atau lebih konsep yang berbeda yang berasal dari dua atau lebih fikiran tuhan yang berlainan,sehingga bila tuhan nampak 'banyak' maka itu pasti adalah hasil persepsi manusiawi,dan mengapa ada utusan Tuhan yang mendeskripsikan konsep Tuhan yang esa tiada lain agar manusia tidak tersesat oleh persepsi persepsi manusiawi yang keliru dalam hal masalah ketuhanan ..... Sehingga suatu yang pada permukaannya dipandang orang sebagai suatu yang nampak sama’ atau nampak berbeda’ tak bisa lantas secara otomatis dikatakan hakikatnya semua sama atau hakikatnya semua berbeda Sehingga karena bersifat tunggal dalam artian tak ada unsur lain yang bisa meruntuhkan derajat ke hakikian nya maka kebenaran hakiki itu pengertiannya menjadi identik dengan kebenaran yang bersifat mutlak Kebenaran hakiki itu tidak diciptakan oleh manusia artinya ia tidak bergantung kepada eksistensi manusia,keberadaan planet planet itu andaikan tak pernah ditemukan oleh manusia maka hakikatnya ia akan tetap ada,dalam arti manusia hanyalah penangkap ada’ nya planet planet bukan pencipta’ hakikat keberadaan planet planet Atau andai kata anda tidak pernah ada atau tidak pernah dilahirkan maka hakikat api tetaplah panas dan ketika anda dilahirkan anda hanya menangkap hakikat api bukan menciptakan hakikat api,dengan kata lain manusia adalah penangkap’ hakikat bukan pencipta’ hakikat,sebab bila manusia pencipta hakikat maka ia bisa merubah hakikat yang sudah ada dan menggantinya dengan hakikat yang baru Sebab itu untuk menangkap dan memahami definisi kebenaran hakiki’ maka kita harus berupaya menempatkannya sebagai suatu yang otonom - diluar manusia dengan jalan melepaskannya dari berbagai atribut tambahan yang disematkan oleh berbagai persepsi manusiawi Manusia diberi seperangkat peralatan yang bersifat fisik dan non fisik untuk menangkap dan memahami serta meyakini adanya kebenaran yang bersifat hakiki itu,yaitu dunia indera-akal dan hati,dunia indera untuk menangkap fakta lahiriah - empirik,akal untuk menangkap hakikat adanya konstruksi dibalik yang nampak serta hati untuk menangkap hakikat adanya unsur yang bersifat personal Dengan dunia indera kita maka kita bisa menangkap adanya suatu yang tetap - baku tak berubah mulai dari awal mula pertama kehidupan di bumi ada hingga hari ini yaitu adanya perputaran antara siang - malam,adanya kehidupan yang berakhir dengan kematian,adanya pergantian dari muda menjadi tua, sifat api yang tetap panas,unsur unsur dasar pembentuk tanah,udara,air dan api yang tetap ,termasuk bentuk wujud tubuh manusia serta binatang binatang,serta teramat banyak hal hal yang bersifat TETAP lainnya yang manusia bisa temukan termasuk yang manusia temukan dalam dunia sains seperti ketetapan yang membentuk hukum fisika Dengan akal nya manusia bisa menangkap bahwa dibalik konstruksi hukum kehidupan dualistik yang serba tetap yang menata kehidupan manusia sehingga dunia berputar antara siang - malam,dari kehidupan ke kematian,atau adanya mekanisme yang menata alam semesta sedemikian rupa sehingga kehidupan menjadi sedemikian tertata nya itu pasti adanya sang peñata-sang desainer sebab mustahil wujud keserba tertataan itu bisa berasal dari kebetulan,dan akal bisa memastikan adanya sang desainer itu walaupun sang desainer itu bersifat abstrak sebab rumusan akal tidaklah sepenuhnya bergantung pada bukti tangkapan indera yang langsung,kepastian yang ditangkap akal itu disebut kebenaran rasional’ Dengan hatinya maka manusia bisa menangkap adanya wujud personal yang bukan manusia yang serba maha yang memiliki kehendak serta maksud tujuan tertentu dibalik semua yang diciptakannya secara tertata sebab sebagaimana juga semua beragam wujud benda yang memiliki bentuk yang serba tertata yang ada di alam nyata mustahil bisa terlahir dengan sendirinya melainkan berasal dari desain fikiran manusia yang mana dibalik itu tersembunyi kehendak kehendak manusia,dibalik kursi ada gambaran tentang kehendak manusia untuk maksud tujuan apa kursi itu dibuat,demikian apalagi dengan wujud benda lain seperti kendaraan bermotor atau sebuah komputer. Dan Itulah dunia alam lahiriah menjadi cermin dari difahaminya dunia alam abstrak oleh peralatan penangkap dunia abstrak yang ada pada diri manusia Nah bentuk kebenaran seperti ini sebenarnya yang ingin digambarkan seorang Socrates kepada kaum Sopies yang senantiasa berpandangan bahwa kebenaran itu bersifat relatif’,dan kebenaran seperti ini pula yang mulai ditinggalkan kembali oleh para filosof pos mo yang alur pemahamannya terhadap kebenaran kembali ke alam fikiran kaum Sopies Nah kebalikan dari kebenaran hakiki adalah sesuatu yang tidak hakiki - sesuatu yang bersifat relative yang orang sebut sebagai kebenaran relative, misal, persepsi-gambaran-khayalan manusiawi atau segala suatu yang ada atau berputar dalam alam fikiran manusia yang bisa berubah ubah dari waktu ke waktu atau berbeda beda dari satu orang ke orang lain,dan bentuk kebenaran yang bersifat relative diantaranya adalah isme gambaran kebenaran’ menurut kacamata sudut pandang manusia yang sebagaimana kita tahu senantiasa berubah ubah dari zaman ke zaman,di saat tertentu faham rasionalisme dianggap merupakan parameter kebenaran’ dan setelah berbagai problematika tak bisa di selesaikan oleh faham itu maka para pemikir membuat kacamata sudut pandang atau isme lain Jadi yang bersifat relative itu sebenarnya bukanlah kebenaran nya itu sendiri tetapi pandangan manusia terhadap kebenaran yang adalah berbeda beda dari satu kepala ke kepala lainnya,sehingga bila kita ingin berpegang pada kebenaran yang sejati tentu kita jangan bersandar pada segala suatu yang hanya beredar dalam kepala manusia tetapi harus bersandar kepada suatu yang ada diluar kepala manusia Makna kebenaran hakiki’ akan selalu berkaitan dengan dunia abstrak-dunia tak kasat mata sebab dunia alam lahiriah adalah limpahan dari dunia abstrak-gaib,atau dengan kata lain perwujudan dari sebuah eksistensi yang bersifat abstrak yang ada di dunia gaib,sebagaimana contoh analoginya, seorang ibu yang mengurusi anak anaknya dengan telaten tanpa rasa lelah adalah limpahan dari adanya suatu yang bersifat abstrak yang ada dalam hatinya yiatu adanya rasa cinta kasih sayang,sepasang manusia yang bersatu dalam rumah tangga di ikat oleh suatu yang bersifat abstrak rasa saling mencintai,seorang pelukis menorehkan sesuatu yang bersifat abstrak kedalam kanvas nya dan banyak lagi contoh lain yang bila ditelusuri hingga ke asal muasalnya yang terdalam semua yang bersifat lahiriah itu berasal dari yang abstrak-non fisik-bersifat fikiran Dengan kata lain yang abstrak - gaib adalah tempat menapak atau melekatnya segala suatu yang bersifat lahiriah sebagaimana tembok sebuah gedung besar yang nampak mata melekat pada konstruksi besi beton yang tak nampak langsung,sehingga segala suatu yang bersifat lahiriah itu hakikatnya bisa difahami dengan jalan menelusuri sebab - akibatnya hingga ke dunia abstrak Sebab itu akan sulit memahami apa itu makna kebenaran hakiki’ bagi seorang yang terlalu terbiasa menggunakan kacamata metodologi sains untuk melihat dan menilai segala suatu,sehingga ia selalu menuntut bukti empirik yang mutlak langsung terhadap segala suatu yang berhubungan dengan problem keilmuan padahal pengertian kebenaran hakiki’ itu bersifat abstrak serta terletak pada hal hal yang bersifat abstrak Sebagai contoh, seorang ayah yang memukuli anaknya maka tidak salah bila kita mengatakan hakikatnya ia sebenarnya menyayangi anaknya’,tetapi apa yang ada dihatinya itu tidak bisa dibuktikan melalui bukti empirik langsung sebab bersifat abstrak,tetapi yang bersifat abstrak itulah yang sebenarnya mengendalikan perilaku sang ayah terhadap anaknya Jadi dengan cara pandang yang bagaimana manusia bisa memahami kebenaran yang bersifat hakiki ? .. jawabnya adalah bila manusia bermata dua’,artinya bisa melihat dunia alam lahiriah dan dunia abstrak,dunia fisik -non fisik,dunia materi - non materi secara berimbang sehingga ia bisa menelusuri sebab - akibat dari segala suatu yang ada di alam lahiriah hingga bisa tembus sampai ke alam abstrak - gaib,sebagai contoh analoginya, bila seseorang melihat perilaku - perbuatan lahiriah manusia ia bisa menelusurinya hingga ke sebab terawal nya yaitu niat nya-fikirannya-kehendak nya,sebab itu pada yang abstrak itulah terletak hakikat dari tiap perbuatan lahiriah manusia Nah analogi demikian juga bisa kita terapkan untuk memahami adanya hal hal yang bersifat lahiriah seperti adanya wujud keserba tertataan di alam semesta termasuk keserba tertataan wujud manusia bahwasanya bila kita telusuri hingga ke sebab paling awal nya yaitu hingga menembus dunia abstrak maka kita akan menemukan hakikat yang sebenarnya Sehingga karena itu yang harus saya tekankan adalah bahwa kebenaran hakiki yang ada di dunia abstrak itu tidak akan difahami oleh orang yang berkacamata sudut pandang materialist atau orang yang berkacamata sudut pandang bermata satu’ yang beranggapan bahwa yang nyata dan yang benar = segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera dan atau yang bisa dibuktikan secara empirik Sehingga betapapun kita beradu argumentasi tentang kebenaran hakiki’ dengan seorang yang berkacamata sudut pandang materialist - dengan seorang yang selalu menggunakan kacamata sains sebagai parameter tunggal kebenaran mutlak maka dijamin tidak akan pernah akan saling bersambungan ….. Di zaman ini saat fikiran manusia banyak dikendalikan oleh isme isme tertentu,oleh pemikiran ala pos mo yang sudah tidak lagi berfikir tentang hal hal yang bersifat hakiki maka pemahaman tentang kebenaran hakiki’ itu harus di reka ulang kembali Dengan kata lain di zaman ini tugas para pemikir kebenaran hakiki’ sebenarnya menjadi jauh lebih sulit ketimbang apa yang dilakukan seorang Socrates terhadap kaum Sopies sebab di zaman ini tantangannya sudah demikian canggih dan semakin beraneka warna Sehingga di zaman ini upaya untuk mendeskripsikan hakikat adanya yang hanya mungkin satu’ dibalik realitas yang beraneka warna tidaklah mudah masuk kedalam fikiran orang orang tertentu,sebab dalam fikiran manusia tertentu seperti telah tertanam suatu pandangan seolah realitas yang beragam ini berasal dari hakikat yang berbeda beda’ atau dengan bahasa lain berasal dari tuhan yang banyak’ sehingga tugas para pemikir kebenaran hakiki’ adalah bagaimana meruntuhkan pandangan seperti itu untuk menunjukkan bahwa kebenaran hakiki itu hakikatnya berwajah tunggal - ada pada yang satu,sebagaimana matahari yang dibuat hanya satu untuk semua manusia Dan itulah ke aneka ragaman warna warni kehidupan dunia dengan berbagai perbedaan di dalamnya adalah ujian tersendiri bagi para pencari kebenaran sejati untuk mencari kebenaran sejati yang hakikatnya hanya mungkin ada satu Dan pelajaran tentang adanya kebenaran hakiki yang hanya mungkin ada satu itu sebenarnya telah kita peroleh di sekolah dasar dulu ketika guru kita saat memberi ujian kenaikan memberikan pilihan jawaban untuk di pilih pilih a - b - c - d atau e ? ... maka sang guru tentu saja tidak akan mengatakan 'semua pilihan jawaban itu benar' sebab pernyataan itu bisa merusak logika karena essensi dari tiap pilihan jawaban itu dibuat berbeda beda bahkan berlawanan satu sama lain Lalu mengapa prinsip demikian tidak kita terapkan dalam melihat dan memahami realitas yang beragam yang essensinya berbeda beda dan bahkan berlawanan satu sama lain ? Lihat Filsafat Selengkapnya HUKUM HANYALAH MILIK ALLAHOleh Syaikh Salim bin Id al-HilaliSesungguhnya, permasalahan hukum keputusan, syari’at peraturan, dan taqâdhi berperkara selayaknya hanya diserahkan kepada Allah semata, bukan diserahkan kepada kehendak manusia yang sering berubah, atau atas dasar pertimbangan mashlahat-mashlahat yang tidak pasti, atau kepada adat kebiasaan yang disepakati oleh suatu kelompok atau beberapa kelompok, tetapi tidak berpedoman secara kuat dalam berpegang kepada syari’at Allah. Permasalahan ini, yaitu hukum hanyalah hak Allah, termasuk perkara yang diketahui secara pasti dalam masalah keimanan. Hal ini berdasarkan banyak Masalah ini dibangun berdasarkan pengakuan terhadap Rububiyyah kekuasaan, kepemilikan, pengaturan Allah. Allah adalah al-Khalik Sang Pencipta yang telah menciptakan segala sesuatu, dan kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara berfirmanأَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَIngatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam. [al-A’râf/754].Allah adalah ar-Raziq Sang Pemberi Rezeki; adakah seseorang yang mampu memberi rezeki kepada dirinya sendiri dan orang lain?Allah berfirmanمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ﴿٥٧﴾إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُAku [Allah] tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Mahapemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. [adz-Dzâriyât/5157-58].Ini mengharuskan hukum itu hanyalah milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena penyebab-penyebab ibadah –yang aku maksudkan penciptaan dan pemberian rezeki- mengharuskan hanya Allah yang diibadahi, dan hukum itu hanyalah milik Allah berfirmanإِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُKeputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus. [Yusuf/1240].2. Agama Allah pasti lebih utama daripada hukum yang dibuat manusia. Allah berfirmanأَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَApakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? [al-Mâ`idah/550].Termasuk perkara yang secara pasti sudah diketahui oleh orang yang berakal sehat dan memiliki fithrah yang lurus, bahwa barang buatan manusia tidak membuat sendiri hukum-hukum untuk dirinya, yang dia akan berjalan di atasnya dan bergerak ke arahnya. Namun yang membuatkannya ialah orang yang telah menciptakannya dan membuatnya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu termasuk kejahilan, jika manusia menggambarkan bahwa dia mampu membuat hukum-hukum untuk dirinya sendiri, dia akan berjalan di atasnya dan tidak menyimpang darinya. Dan bahwa kekurangan tidak akan mendatanginya dari sisi-sisinya, atau tidak akan melahirkan cacat di tengah-tengahnya, atau kelemahan tidak menjadi sifatnya yang sini, maka manusia wajib kembali kepada syari’at Allah yang telah menciptakan manusia. Allah mengetahui apa yang dapat menjadikan manusia itu menjadi baik, dan mengetahui yang akan menjadi baik keadaan berfirmanأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُApakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui yang kamu lahirkan atau rahasiakan; dan Dia Mahahalus lagi Mahamengetahui? [al-Mulk/6714].3. Barangsiapa mengagungkan syari’at dengan sebenar-benarnya, dia akan mengetahui bahwa syari’at itu dibangun berdasarkan hikmah dan demi kemashlahatan hamba di dunia dan akhirat. Syari’at merupakan keadilan Allah bagi hamba-hamba-Nya, dan merupakan rahmat-Nya kepada cipataan-Nya. Maka barangsiapa istiqamah di atas syari’at, dia akan meraih kehidupan hati, mendapatkan kegembiraan, dan telah berpegang dengan tali yang kokoh. Karena syari’at merupakan keselamatan dari segala keburukan, dan mendatangkan segala kebaikan. Semua kekurangan yang terjadi di alam ini, adalah akibat dari menyia-nyiakan syari’ tidak pernah habis terhadap sekelompok manusia dari kalangan kita yakni, secara lahiriyah beragama Islam, seperti orang-orang JIL dan semacamnya, pent., mereka berbicara dengan bahasa kita, namun tidak melihat kesempurnaan kemajuan kecuali hidup di atas sisa-sisa hidangan-hidangan makanan orang-orang kafir dan para penyembah berhala. Karena mereka ini menyangka bahwa orang-orang kafir itu telah sampai pada puncak tertinggi kemajuan dan ketinggian. Mereka berpura-pura lupa bahwa pandangan orang-orang kafir itu hanya sebatas dunia semata; dunia itu merupakan cita-cita dan tujuan mereka Ta’ala berfirmanوَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴿٦﴾يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَTetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai. [ar-Rûm/306-7].Para pengekor orang-orang kafir ini telah menyakiti diri dan umat mereka sendiri, karena mengganti nikmat Allah dengan pengingkaran, dan menempatkan kaum mereka pada kedudukan yang paling rendah. Maka sepantasnya gerakan mereka itu dihentikan dengan cara yang baik kepada perkara yang paling berfirmanإِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُSesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus. [al-Isrâ`/179].Maka manakah dari dua kelompok itu yang lebih berhak mendapatkan keselamatan jika kamu mengetahui?الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَOrang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.[al-An’âm/682].Sesungguhnya Allah Tabâraka wa Ta’ala tidaklah menjadikan kita membutuhkan kitab-kitab suci yang telah lalu, bahkan Dia telah memberikan kepada kita satu kitab yang menerangkan segala sesuatu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala. Lantas, bagaimana mungkin Allah menjadikan kita membutuhkan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia dalam mengatur keberadaan dan urusan mereka, kondisi-kondisi mereka, keadaan-keadaan mereka, dan politik-politik mereka? Maha suci Allah dan kita berlindung kepada termasuk kesempurnaan dan keutamaan umat Islam dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Karena dengan kesempurnaan Nabinya dan syari’atnya, umat Islam ini tidak membutuhkan kepada sesuatu di luar Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Keduanya merupakan bekal bagi keselamatan manusia, menjadi pedoman dan sumber kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Adakah orang yang megambil pelajaran?HUKUM ALLAH ADALAH HUKUM YANG PALING BAIK Siapakah yang mampu mengklaim bahwa dia merasa lebih mampu mengetahui keadaan manusia dibandingkan Allah? Atau dia merasa lebih bijaksana daripada Allah dalam mengatur urusan manusia? Atau dia mengklaim bahwa ada keadaan-keadaan dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam kehidupan manusia dan Allah tidak mengetahuinya –Maha Suci Allah-, sedangkan Allah telah menyempurnakan syari’at-Nya dan mencukupkan nikmat-Nya? Atau Allah mengetahui hal-hal itu tetapi tidak mensyari’atkannya?Semua ini telah diisyaratkan oleh firman Allah Azza wa Jallaقُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُApakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah? [al-Baqarah/2140].Dan oleh firman-Nyaوَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّاDan tidaklah Rabb-mu lupa. Qs Maryam/1964.Sesungguhnya bukti-bukti keutamaan agama Allah atas hukum-hukum buatan manusia tidak bisa dihitung dan tidak terbatas, bahkan hal itu tersingkap dengan berjalannya waktu dan berulangnya masa. Tetapi Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim, dan Dia berbuat apa yang Dia antara bukti-bukti itu ialah sebagai berikut 1. Bahwasanya agama Allah bersifat menyeluruh lengkap, sempurna, saling menyempurnakan, mencakup seluruh keadaan manusia dan mengaturnya. Pengaturan, pengarahan, pemeliharaan agama ini dalam semua sisi kehidupan manusia dengan seluruh aspeknya, bentuknya, dan warnanya. Sehingga agama Islam ini tidak meninggalkan sesuatu pun kecuali menjaganya dan menyimpannya di dalam kitab yang telah menerangkan. Hakikat kesempurnaan Islam ini, bahkan diketahui oleh musuh-musuh Yahudi pernah berkata kepada Salman Radhiyallahu anhuلَقَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَSesungguhnya Nabi kamu telah mengajari kamu segala sesuatu, termasuk adab buang hajat. [HR Muslim, no. 262]Allah Ta’ala berfirmanأَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَMaka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab Al-Qur`an kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur`an itu diturunkan dari Rabbmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. [al-An’âm/6114].2. Agama Allah adalah agama yang berdiri di atas ilmu Allah yang telah menciptakan manusia, dan telah menciptakan alam ini tempat manusia hidup di dalamnya. Maka Allah mensyari’atkan jalan yang berasal dari-Nya untuk manusia. Jika manusia memilihnya, berati dia meniti jalan peribadahan, yang alam ini berjalan lurus di atasnya Agama Allah adalah agama yang serasi bersama aturan-aturan Allah di alam ini, karena agama ini merupakan agama yang diridhai oleh Pencipta alam ini. Allah berfirmanأَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَMaka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [Ali-Imran/383].4. Agama Allah adalah agama yang membebaskan manusia dari peribadahan kepada selain Allah. Dalam seluruh hukum yang dibuat manusia, maka manusia tunduk kepada manusia, manusia menyembah manusia. Adapun dalam agama Allah, manusia keluar dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Pencipta makhluk. Sesungguhnya hukum jahiliyah merupakan tumpukan hawa nafsu manusia, kelemahan dan kekurangan mereka. Sama saja, baik yang membuat peraturan itu satu orang untuk orang banyak, atau satu kelas manusia untuk semua tingkatan, atau semuanya membuat untuk diri mereka sendiri, karena hal itu timbul dari hawa nafsu manusia, yang mana manusia itu selamanya tidak akan lepas dari hawa nafsu. Dan karena hal itu merupakan kebodohan manusia, yang selamanya tidak akan lepas dari kebodohan. Oleh karena itulah, tidak ada keraguan padanya, bahwasanya menghukumi dengan selain yang Allah turunkan merupakan keburukan dan kesusahan, kerusakan dan kesempitan. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirmanأَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَApakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin ? [al-Mâ`idah/550].Al-hamdulillahi Rabbil-Âlamin.[1][Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Diterjemahkan oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari, dari makalah berjudul ”Inil-Hukmu illa lillâh” dan ”Wa man Ahsanu minallâhi hukman”, dari kitab al-Maqalât as-Salafiyah fil-Aqidah wad- Da`wah, wal-Manhaj, wal-Waqi’, karya Syaikh Salim bin Id al-Hilali -hafizhahullah-, Penerbit Maktabah al-Furqan, Cet. I, Th. 1422 H / 2001 M, hlm. 38-42. Wallahualam bissawab dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya. Seringkali kita terjebak pada situasi dimana terdapat lebih dari satu cara pandang dari suatu masalah. Masing-masing memiliki dalil atau dasar pemikiran yang sama-sama kuat dan dilandasi dengan berbagai macam contoh kejadian di masa lalu yang memperkuat pemikiran tersebut. Semakin kita merasa telah memahami suatu konsep pemikiran semakin kita yakin pada apa yang kita yakini benar. Sebagai orang yang beriman, sudah selayaknya keyakinan kita pada ajaran agama yang kita anut haruslah total dan terpelihara. Yang dimaksud terpelihara disini adalah apa yang kita lakukan hendaklah sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diajarkan agama. Yang bisa menjadi masalah adalah ketika pemahaman dan cara pandang kita seringkali berbeda-beda berdasarkan apa yang kita lihat, rasakan dan alami yang akhirnya menjadi keyakinan yang kita pegang teguh. Disinilah masing-masing kita sebagai orang beriman harus lebih berhati-hati ketika mengatakan bahwa pemahaman kita adalah yang paling benar. Al Qur’an mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh manusia, baik dia seorang muslim maupun non muslim. Al Qur’an juga menyatakan bahwa Allah tidak memerlukan apapun dari makhluk ciptaannya. Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa ternyata apa yang diperintahkan maupun dilarang oleh Allah melalui Al Qur’an maupun kitab-kitab sebelumnya adalah demi kebaikan manusia itu sendiri. Ketika menjalankan ajaran Al Qur’an sesuai pemahaman dan keyakinan yang timbul dari dalam diri kita maupun guru kita dan ketika ternyata hasilnya adalah sesuatu yang menimbulkan perdebatan dan bahkan perpecahan, akan lebih mulia di sisi Allah apabila masing-masing kita memilih bersabar dan kembali merenung dan melakukan introspeksi dibandingkan menempuh jalan kekerasan. Hal ini lebih mudah dilakukan apabila kita memegang prinsip bahwa hanya Allah yang maha benar dan manusia adalah makhluk-Nya yang cenderung pada khilaf dan kesalahan. Marilah kita sama-sama berlatih memelihara keimanan kita dan selalu ber-istghfar ketika kita merasa yang paling benar, karena kebenaran hakiki hanya milik Allah sang pencipta. Wallahualam bissawab.

kebenaran hakiki hanya milik allah