AlatPeraga adalah. Contoh Alat Peraga ā Pengertian Menurut Para Ahli, Tujuan, Manfaat, Jenis, Kelebihan & Kekurangan ā Untuk pembahasan kali ini kami akan memberikan ulasan mengenai Alat Peraga yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian menurut para ahli, tujuan, manfaat, jenis, kelebihan, kekurangan dan contoh, nah agar lebih dapat
SilabusKurikulum 2013 Paud Non Formal Tahun 2017 2018 Administrasi Sarana Prasarana dalam proses pembelajran disiapkan sebagai bentuk agar proses belajar dapat menarik minat anak didik, seperti halnya penyiapan Alat Peraga Pendidikan Paud, dimana berfungsi sebagai alat bantu terlaksana nya proses mengajar, sebagai pendukung untuk menerangkan suatu
PROMOALAT PERAGA PLAYGROUND INDOOR PAUD TK TERKANGKAU 2022: Harga : Rp (Hubungi CS) Lihat Detail . Puzzle Hijaiyah Rata Besar. Rp (Hubungi CS) Detail Beli. Order Sekarang Ā» SMS : ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman . Nama Barang: Puzzle Hijaiyah Rata Besar: Harga : Rp (Hubungi CS) Lihat Detail .
AlatPeraga Timbangan Sederhana; Berbeda dengan yang lainnya alat permainan dengan bahan dasar kain, dapat dicuci atau diganti bila sudah terlihat kusam dan lusuh. Karena tidak semua sarana bermain digunakan dan pajang dalam sentra/area sehingga yang tidak digunakan sebaiknya disimpan dalam tempat penyimpanan (gudang APE).
Contohrpph paud dan tk kurikulum 2013. Kamis 26 mei 2016 muatan materi kegiatan pembelajaran alat dan bahan penilaian kompetensi dasar belum muncul sudah muncul ket. Rpph Tema Alam Semesta Usia 5 6 Tahun Semester 2 Kurikulum 2013 Link Paud . 5 45 12 RPPH klp B Smt 2 Tema Alam semesta subtema benda benda langit. Rpph paud tema alam
333Alat Tulis Kantor Kabupaten Buleleng. 320 Pakaian Dinas dan Kain Tradisional Provinsi DKI Jakarta. 318 Bahan Material Kota Depok. 314 Makanan dan Minuman Kota Mojokerto. 303 JASA KALIBRASI ALAT KESEHATAN. 300 Bahan Pokok Kabupaten Kuningan. 298 Alat Tulis Kantor Kota Bekasi. 293 Bahan Pokok Provinsi Kalimantan Barat. 293 Jasa Keamanan
. This research aims to improve the starting ability of using natural materials. In the child group B in the PAUD Terpadu Rajawali, Kabupaten Samosir. This research is a study using the Kemmis Model and the Mc Tagart that is done in two cycles, of each cycle consists of 5 meetings. The study subject consisted of 20 children, 10 boys and 10 girls. This research object in the form of development improves the starting ability to use natural materials. Data collection uses observation and documentation. The results of this study indicate that the calculation of the start using natural materials and materials is around us. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Aį¹fÄluna Journal of Islamic Early Childhood Education December 2018, Vol. 1 No. 2 47 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG PERMULAAN MENGGUNAKAN BAHAN ALAM The Efforts to Increase Beginning Calculation Ability by Using Natural Materials Fitri Simanjuntak1, Hasnah Siahaan2 12PAUD Terpadu Rajawali, Samosir 1rindofitri12 2hasnahsiahaan27 First Received 21 June 2018 Final Proof Received 20 July 2018 Abstract This research aims to improve the starting ability of using natural materials. In the child group B in the PAUD Terpadu Rajawali, Kabupaten Samosir. This research is a study using the Kemmis Model and the Mc Tagart that is done in two cycles, of each cycle consists of 5 meetings. The study subject consisted of 20 children, 10 boys and 10 girls. This research object in the form of development improves the starting ability to use natural materials. Data collection uses observation and documentation. The results of this study indicate that the calculation of the start using natural materials and materials is around us. Keywords Beginning Calculation, Natural Materials Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkankemampuan berhitungpermulaan menggunakan bahan alam. Pada anak kelompok B di PAUD Terpadu Rajawali Kabupaten Samosir. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan Model Kemmis dan Mc Tagart yang dilakukan dalam dua siklus, dari setiap siklus terdiri dari 5 pertemuan. Subjek penelitian terdiri dari 20 anak, 10 laki-laki dan 10 perempuan. Objek penelitian ini berupa pengembangan meningkatkan kemampuan berhitungpermulaan menggunakan bahan alam. Media pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berhitung permulaan menggunakan bahan alam dan bahan ada di sekitar kita. Kata Kunci Berhitung Permulaan, Bahan Alam - PENDAHULUAN Anak merupakan individu yang unik, dan memiliki kekhasan tersendiri kajian tentang anak selalu Menarik sehingga memunculkan berbagai pandagan tentang arti sebenarnya hakikat seorang anak. Guru, Teman Kanak-kanak sebagai pelaku pendidikan yang secara langsung perkembangan dengan anak sangat penting memahaminya sesuai dengan tugas perkembangan anak pada setiap tingkat usia tertenu. Untuk meningkatkan mutu pendidikan anak, sangat di perlukan pemahaman yang mendasar mengenai perkembangan diri anak, terutama yang terjadi dalam proses pembelajaraannya. Dengan pemahaman yang cukup mendalam atas proses tersebut diharapkan kita sebagai guru yang meliputi orangtua, pendidik disuatu lembaga pendidikan dan Upaya Meningkatkan Kemampuan⦠- Fitri Simanjuntak & Hasnah Siahaan 48 sebagai pemerhati pendidikan, maupun mengadakan eksplorasi, merencanakan, dan mengimplementasikan penggunaan sumber belajar Proses belajar mengajar tidak akan berhasil dengan optimal bila suatu sekolah tidak menyediakan sarana yang memadai, disinilah perlunya daya imajinasi guru ataupun calon guru dalam menciptakan sumber belajar dengan bahan yang ada sehingga tidak ada kata ātidak ada danaā yang dijadikan alasan untuk tidak menyediakan suatu alat/sumber belajar anak. Berhitung di TK tidak hanya terkait dengan kemampuan kognitif saja, tetapi juga kesiapan mental sosial dan emosional, karena itu dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara menarik, bervariasi dan menyenangkan. Metode berhitung merupakan bagian dari matematika, hal ini diperlukan untuk menumbuh kembangkan keterampilan berhitung yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan selanjutnya Depdiknas, 2007. Adapun masalah yang dihadapi guru, meliputi anak-anak kurang berminat belajar berhitung, dan kurang mampu memilih dan menggunakan metode pembelajaran serta alat peraga dalam pembelajaran masih terbatas. Oleh karena itu untuk memecahkan permasalahan diatas peneliti mencoba mencari jalan keluar dengan upaya perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas agar tercipta suasana yang Terpadu Rajawali sebagai tempat penelitian penulis berada di sebuah kecamatan, dimana masih mudah untuk menemukan bahan alam yang diperlukan untuk dijadikan bahan pembelajaran anak . Hal inilah yang mendorong penulis untuk memanfaatkan bahan alam sebagai media pembelajaran, dimana diharapkan dengan mengeluarkan biaya yang sedikit namun dapat berdampak besar dalam perkembangan Kognitif Anak dalam berhitung Permulaan. Dalam kamus Bahasa Indonesia kemampuan berasal dari kata āmampuā yang berarti kuasa, sanggup, melakukan sesuatu, dapat, berada, kaya, mempunyai harta berlebihan. Kemampuan adalah suatu kesanggupan dalam melakukan sesuatu yang harus ia lakukan. Ada beberapa teori tntang kemampuan yakni 1. Menurut Chaplin, Ability adalah kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan merupakan tenaga daya kekuatan untuk melakukan suatu perbuatan. 2. Menurut Robbins kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek. 3. Menurut Sudrajat menghubungkan kemampuan dengan kata kecakapan. Setiap individu memiliki kecakapan yang berbeda-beda dalam melakukan suatu ini mempengaruhi potensi yang ada dalam diri individu tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahawa kemampuan adalah yang dapat dikuasai oleh anak setelah terjadinya proses belajar. Kemampuan anak TK tentu tidak sama dengan kemampuan anak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mengingat Upaya Meningkatkan Kemampuan⦠- Fitri Simanjuntak & Hasnah Siahaan 49 usia, kematangan cara berpikir anak belum maksimal PGTK 2402. Pembelajaran permainan berhitung pemula di taman kanak-kanak 2000 dijelaskan bahwa berhitung merupakan bagian dari matematika, diperlukan untuk menumbuh kembangkan keterampilan berhitung yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar. Ada beberapa pendapat para ahli tentang kemampuan berhitung yaitu 1. Susanto berpendapat bahwa kemampuan berhitung permulaan adalah 2011 adalah kemampuan yang dimiliki setiap anak untuk mengembangkan kemampuannya, karakteristik perkembangannya dimulai dari lingkungan yang terdekat dengan dirinya,sejalan dengan perkembangan kemampuannya anak dapat meningkat ke tahap pengertian mengenai jumlah, yang berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan. 2. Sriningsih N. berpendapat bahwa kemampuan berhitung permulaan adalah 2008 kegiatan berhitung untuk anak usia dini disebut juga sebagai kegiatan menyebutkan urutan bilangan atau membilang buta. Anak menyebutkan urutan bilangan tanpa menghubungkan dengan benda-benda konkret. Pada usia 4 tahun mereka dapat menyebutkan urutan bilangan sampai sepuluh. Sedangkan usia 5 sampai 6 tahun dapat menyebutkan bilangan sampai seratus. Dapat disimpulkan bahwa berhitung merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak dalam hal matematika seperti kegiatan mengurutkan bilangan atau membilang dan mengenai jumlah untuk menumbuh kembangkan ketrampilan yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar bagi anak. Pengenalan berhitung sangat bermamfaat paa anak usi dini. Ada beberapa pendapat para ahli tentang mamfaat pengenalan berhitung, diantaranya 1. Suyanto, S 2005 manfaat utama pengenalan matematika, termasuk didalamnya kegiatan berhitung ialah mengembangkan aspek perkembangan dan kecerdasan anak dengan menstimulasi otak untuk berpikir logis dan matematis. 2. Siswanto 2008 mempunyai manfaat bagianak-anak, dimana melalui berbagai pengamatan terhadap benda disekelilingnya dapatberfikir secara sistematis dan logis, dapat beradaptasi dan menyesuiakan dengan lingkungannya yang dalam keseharian memerlukan kepandaian berhitung. Memiliki apresiasi, konsentrasi serta ketelitian yang tinggi. Mengetahui konsep ruang dan waktu. Mampu memperkirakan urutan sesuatu. Terlatih, menciptakan sesuatu secara spontan sehingga memiliki kreativitas dan imajinasi yang tinggi. Anak-anak yang cerdas matematika-logika anak dengan memberi materi-materi konkrit Upaya Meningkatkan Kemampuan⦠- Fitri Simanjuntak & Hasnah Siahaan 50 yang dapat dijadikan bahan percobaan. 3. Sujiono 2008 permainan matematika yang diberikan pada anakusia dini pada kegiatan belajar di TK bermanfaat antara lain, 1. Membelajarkan anak berdasarkan konsep matematika yang benar, menarik dan menyenangkan. 2. Menghindari ketakutan terhadap matematika sejak awal. 3. Membantu anak belajar secara alami melalui kegiatan bermain. Permainan matematika yang diberikan pada anak usia dini pada kegiatan belajar di Taman Kanak-kanak bermanfaat antara lain, pertama membelajarkan anak berdasarkan konsep matematika yang benar, menarik dan menyenangkan. Kedua, menghindari ketakutan terhadap matematika sejak awal. Ketiga, membantu anak belajar secara alami melalui kegiatan bermain. Sentra bahan alam dipergunakan untuk mempelajari bahanābahan alam seperti pasir, air, play dough, warna dan bahan alam lainnya. Bahan alam memiliki alat-alat penunjang yang akan dipelajari, dalam sebuah kegiatan sentra bahan perbandingan ideal guru dengan murid adalah 110 dan yang menjadi guru bahan alam adalah benar-benar guru yang menguasai sentra bahan alam, baik dari segi kegiatan, maupun mengevaluasi perkembangan dari setiap siswa yang berekspolrasi dengan bahan alam. 1. BatuāBatuan Kita dapat menemukan bentuk batu yang sangat beragam di lingkungan sekitar kita,selain bentuknya yang unuk, batu juga memiliki ukuran yang sangat beragam. Media bernain yang dapat diciptakan dengan media ini sebagai alat hitung-menghitung, bunyi-bunyian, juga dibuat menjadi batu bintang ataupun bentuk yang lainnya. 2. Kayu Memilih kayu sebagai bahan baku untuk alat permainan adalah sangat tepat ada kayu yang keras dan ada pula kayu yang lunak .pilih lah kayu yang cukup keras dan kering agar bubuk atau jamur kayu tersebut tidak mudah di makan oleh anak didik .kayu mahoni dapat juga digunakan sebagai bahan untuk alat permainan untuk anak karena kayu mahoni memiliki serat yang lembut, berwarna merah dan sebaiknya jangan di kayu mahoni ,masih banyak kayu jenis-jenis kayu yang dapat di pakai sebagai alat peraga seluruh bagian tanaman yang ada dapat digunakan sebagai alat pembelajaran. 3. Daun-daunan kering Berbagai jenis daun dapat dipergunakan sebagai alat untuk melukis atau prakarya, seperti membuat topi boneka dari daun ,mencetak. Selain itu, daun juga dapat dipergunakan dalam kegiatan matematika, seperti mengukur daun, membedakan kasar halus, mengelompokan macam-macam bentuk daun 4. Biji-bijian Biji-bijian adalah alat pemainan yang paling mudah di cari, ditemukan dan paling dekat dengan lingkungan sekitar dan kehidupan kita sehari-hari. Bijiābijian yang dapat digunakan Upaya Meningkatkan Kemampuan⦠- Fitri Simanjuntak & Hasnah Siahaan 51 untuk alat permainan, seperti biji srikaya, biji salak, kacang tanah, biji kacang hijau dapat digunakan sebagai alat untuk mnghitungāhitung atau hiasan. 5. Pelepah Pelepah pohon pisang, pelepah pohon pinang pelepah daun singkong dan pelepah daun pepaya dapat di pergunakan sebagai alat permainan maupun kegiatan kesenian. Pelepah daun singkong bisa digunakan sebagai baling baling begitu pula dengan pelepah pohon pisang dijadikan alat musik ataupun kuda-kudaan. Pelepah pohon-pohon tersebut dapat pula digunakan sebagai alat kreativitas, seperti untuk meronce. METODE PENELITIAN Penelitian ini saya lakukan di PAUD Terpadu Rajawali di Desa Pardomuan I Kec. Pangururan, Kab Samosir pada semester I tahun pelajaran 2018/2019. Subjek Penelitian ini adalah murid di kelompok B PAUD Terpadu Rajawali dan murid yang menjadi subjek penelitian seluruhnya 20 orang, dengan 10 sepuluh perempuan dan 10 sepuluh laki-laki. Waktu penelitian ini di mulai dari tanggal 22 Oktober hingga 02 Novenber 2018. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Pada Perbaikan Siklus I, ada beberapa temuan yang menjadi perhatian bagi guru, supervisor, dan teman sejawat, antara lain 1. Kegiatan pembelajaran berlangsung dengan lancar. 2. Ada beberapa anak yang menjadikan Media untuk dijadikan bahan masak-masakan. 3. Ada beberapa anak yang tidak melakukan kegiatan. 4. Hasil penilaian kegiatan 20 anak secara keseluruhan Secara umum perbaikan siklus II menunjukkan hasil yang memuaskan. Adapun hal-hal yang akan di bahas dalam siklus ini adalah 1. Kegiatan pembelajaran berlangsung dengan terjadi karena karena penjelasan dan motivasi guru kepada secara bergantian. 2. Hampir semua anak sudah dapat mengikuti keguatan secara benar. Dapat terlihat bahwa anak yang kemampuan melakuan kegiatan sesuai dengan kriteria Berkembang Sangat Baik dan Berkembang sesuai harapan BSB dan BSH ada 19 orang. Anak yang mampu menggunakan kegiatan berhitung permulaan berjumlah 19 orang dan anak yang mampu menggunakan media dengan baik sebanyak 18 orang, sedangkan anak yang mampu melakukan kegiatan sesuai indikator berjumlah 19 orang. Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa pelaksanaan perbaikan siklus II berhasil dengan perolehan Nilai bekembang sangat baik dan Berkembanng sesuai harapan BSB dan BSH sebanyak 19 orang dari 20 orang atau setara dengan 95%. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian selama dua siklus dengan kegiatan berhitung permulaan dari bahan alam yang dilaksanakan di kelompok B di PAUD Terpadu Rajawali dapat meningkatkan kemampuan dan minat berhitung pada anak Usia Dini. Peningkatan ini terlihat dari hasil pengamatan pada akhir perbaikan kegiatan Upaya Meningkatkan Kemampuan⦠- Fitri Simanjuntak & Hasnah Siahaan 52 berhitung, meliputi anak sudah mampu berhitung dengan media, bisa membedakan besar kecil, dan mengenal konsep dan lambang bilangan. Secara kuantitatif, berdasar dari grafik hasil pencapaian akhir siklus II, telah terjadi peningkatan dari siklus sebelumnya hingga mencapai dari jumlah keseluruan anak kelompok B PAUD Terpadu Rajawali. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, A. & Sholeh, M. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta Rineka Cipta Aisyah, S., dkk. 2008. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta Universitas Terbuka Feldt, C. S. & Wasik, B. A. 2008. Pendidikan Anak usia Dini. Cet. 1. Klaten PT Macanan Jaya Cemerlang. Hinstock, E. G. 2002 Metode Pengajaran Montessori Untuk Anak Prasekolah. Jakarta Pustaka Delapratara. Jamaris, M. 2003. Perkembangan dan Pengembangan Anak Taman Kanak-Kanak. Jakarta Program Pascasarjana Universitas Meutia, A. C., dkk. 2003. APE untuk Kelompok Bermain. Jakarta Direktorat PAUD Depdiknas Moeslichatoen, R. 1999. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta Rineka Sudono, A. 1995. Alat Permainan dan Sumber Belajar TK. Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Sugiono. 2005. Metode Penelitian Pendidikan Jilid 1. Bandung Alfabeta Sujiono, Y. N. dkk. 2007. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta Universitas Terbuka Wardhani, I. & Wihardit, K. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Universitas Terbuka. ... The child can learn to relate natural objects with mathematical symbols. The method of counting is part of mathematics that is indispensable in everyday life, especially the concept of numbers which is the basis for the development of mathematical abilities and readiness to attend further education Simanjuntak & Siahaan, 2018. According to Cockroft Kusmanto & Marliyana, 2014 explaining that mathematics needs to be applied to children because it is used in all aspects of life; mathematical skills are required in all areas of study; it is a powerful, concise, and explicit means of communication; it can be used to present information in a variety of ways; can improve logical thinking ability, accuracy, and spatial awareness; and provide satisfaction with efforts to solve challenging problems. ...Veryawan VeryawanAnita Yus Yasaratodo WauThis study aims to determine the effect of using the make-a-match cooperative learning model on children's numeracy skills. This quasi-experimental research was conducted at Fadnur Aisyah Islamic Kindergarten, North Sumatra, Indonesia. Researchers took 30 students aged 5-6 years with a specific purpose as a sample. We were collecting data using observation sheets to assess children's numeracy skills. The research instruments include mentioning numbers, counting pictures, connecting with symbols, and adding simplicity. The data analysis technique used is the one-way ANOVA test. The results showed that the average numeracy ability of children using the make-a-match learning model was higher than the expository learning model. Therefore, the implications of the make-a-match cooperative learning model can support numeracy skills in early childhood... Pembelajaran di luar kelas merupakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak usia dini dan dapat diingat seumur hidup karena bersentuhan langsung dengan alam yang dapat membuat anak merasa senang Ratnasari, 2020 Bahan alam merupakan pusat pembelajaran menggunakan panca indra secara langsung, melatih motorik, kognitif, sosial, dan emosi sehingga proses pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan. Dengan bahan alam guru dapat berkreasi menciptakan proses pembelajaran yang menarik, sehingga tidak ada lagi kalimat yang terdengar bahwa tidak memiliki media pembelajaran yang diperlukan dalam proses kesiapan berhitung dan menulis serta keterampilan dan perilaku anak Simanjuntak & Siahaan, 2018. Prinsip pembelajarannya bermain sambil belajar, bermain dengan menggunakan alam, dan belajar bersama alam. ...RIKA KURNIA RThis study aims to improve early childhood numeracy skills using natural-based numeracy learning at the Hajar Aswad Makkio Baji Antang Kindergarten. This research is a development research with a borg and gall model. The background of this research is due to the lack of optimal early numeracy skills in Hajar Aswad Kindergarten, and the parents' desire for children to be given games so they can name and match numbers. The data analysis technique was carried out descriptively qualitatively and quantitatively to test the effectiveness of the model. The instruments used are observation and interviews. The data sources were 2 teachers in group B and the research subjects were 16 students aged 5-6 years. The results of the expert test stated that numeracy learning made from natural materials in the form of textbooks was valid and practical to use in the Hajar Aswad Makkio Baji Kindergarten after being validated with 78% criteria. The results of the field test showed that the child's early numeracy skills were growing, it was seen that there was an increase in learning after being given numeracy learning made from nature. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berhitung awal anak usia dini menggunakan pembelajaran numerasi berbahan alam di TK Hajar Aswad Makkio Baji Antang. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model borg and gall. Latar belakang penelitian ini dikarenakan kurang optimalnya kemampuan berhitung awal di TK Hajar Aswad, dan adanya keinginan orangtua agar anak diberikan permainan sehingga dapat menyebutkan dan mencocokkan bilangan. Teknik analisis data dilakukan secara deskriftif kualitatif dan kuantitatif untuk uji efektivitas model. Instrumen yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Sumber data 2 orang guru di kelompok B dan subjek penelitian 16 orang peserta didik usia 5-6 tahun. Hasil uji ahli menyatakan bahwa pembelajaran numerasi berbahan alam berupa buku ajar valid dan praktis digunakan pada TK Hajar Aswad Makkio Baji setelah divalidasi dengan kriteria 78%. Hasil uji lapangan diperoleh kemampuan berhitung awal anak semakin berkembang terlihat peningkatan belajar setelah diberikan pembelajaran numerasi berbahan alam.... In addition, before the child progresses, the writer and the child make an agreement regarding the rules of the game first so that the child becomes more disciplined and does not disturb other friends who are progressing. This agrees with Simanjuntak & Siahaan 2018 ...This study aims to determine whether or not to develop preliminary numeracy skills in Group A children TK PGRI 04 Kalibatur, Kalidawir District, Tulungagung Regency, using number stick media. This type of research is a Classroom Action Research PTK with a model developed by Kemmis and Mc Taggart. The subjects of this study were 13 children in group A. The data collection techniques used were observation and documentation while the instruments used were child assessment sheets and teacher observation sheets. The data analysis technique used is comparative quantitative technique. In the first cycle the percentage of completeness was the second cycle was and the third cycle was The conclusion of the results of this study is that learning using number stick media can develop initial numeracy skills in Group A children of TK PGRI 04 Kalibatur, Kalidawir District, Tulungagung Regency, 2020/2021Academic Year... So that this media can be a valid medium to improve students' numeracy skills. Simanjuntak & Siahaan 2018 explain the purpose of learning to count for early childhood aims to know the basics of learning to count so that in time the children will be better prepared to take part in learning to count at the next more complex level. ...Based on the results of a preliminary study conducted on 20 children, the number of children who got 4 stars was 3 children with a percentage 15%, 3 stars were 4 children with a percentage 20%, 2 stars were 3 children with a percentage 15%, while those who got 1 star were 10 children with a percentage 50%. This shows that there are still many children who have not been able to count from 1-10, which means that many children have not achieved their learning completeness. For this reason, it is necessary to take action so that children's learning completeness can be achieved. The purpose of this study was to see the effectiveness of using smart tree media in improving children's numeracy skills 1-10. The design chosen for this study was the Kemmis and Taggart Classroom Action Research Model with 3 cycles. The data collection techniques used are performance techniques to collect data about students' numeracy skills and observation techniques to collect data about the learning process when each action cycle is carried out. The results of the data analysis showed that after the third cycle was completed, the learning completeness of the children reached 80%, meaning that there were 16 children who achieved learning completeness. The conclusion is that smart tree media can improve numeracy skills 1-10 in group A children at An-Nur Labuapi hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 20 anak, 3 anak 15% mendapat 4 bintang, 4 anak 20% mendapat 3 bintang, 3 anak 15% mendapat 2 bintang, dan sisanya 10 anak 50% mendapatkan 1 bintang. Hal ini menunjukkan masih banyak anak yang belum dapat berhitung dari 1-10, yang berarti banhyak anak yang belum tercapai ketuntasan belajarnya. Untuk itu perlu adanya Tindakan yang dilakukan agar ketuntasan belajar anak dapat tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat efektivitas penggunaan media pohon pintar dalam meningkatkan kecakapan berhitung 1-10 pada anak. Desain yang dipilih untuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Taggart dengan 3 siklus. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik unjuk kerja untuk mengumpulkan data tentang kemampuan berhitung peserta didik dan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran pada saat setiap siklus tindakan dilaksanakan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa setelah siklus III selesai dilaksanakan ketuntasan belajar anak mencapai 80%, artinya anak yang mencapai ketuntasan belajar berjumlah 16 anak. Kesimpulannya adalah bahwa media pohon pintar dapat meningkatkan kecakapan berhitung 1-10 pada anak kelompok A TK An-Nur Pengajaran Montessori Untuk Anak PrasekolahE G HinstockHinstock, E. G. 2002 Metode Pengajaran Montessori Untuk Anak Prasekolah. Jakarta Pustaka dan Pengembangan Anak Taman Kanak-Kanak. Jakarta Program Pascasarjana Universitas NegeriM JamarisJamaris, M. 2003. Perkembangan dan Pengembangan Anak Taman Kanak-Kanak. Jakarta Program Pascasarjana Universitas untuk Kelompok BermainA C MeutiaMeutia, A. C., dkk. 2003. APE untuk Kelompok Bermain. Jakarta Direktorat PAUD Depdiknas Moeslichatoen, R. 1999.Alat Permainan dan Sumber Belajar TK. Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga AkademikA SudonoSudono, A. 1995. Alat Permainan dan Sumber Belajar TK. Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Sugiono. 2005.
alat peraga sentra bahan alam